Thursday, 18 August 2016

Kasus Kesehatan Lingkungan


BOGOR - Puluhan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) terserang penyakit Hepatitis A dalam dua bulan terakhir. Kasus ini membuat IPB menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof Yonny Koesmaryono, menjelaskan, beberapa bulan ini merupakan masa tersibuk bagi mahasiswanya. Sebagian dari mereka ada yang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir semester (UAS) dan mempersiapkan kelulusan. Kesibukan menyelesaikan tugas kampus, kata Yonny, membuat mahasiswa kurang memperhatikan kesehatan mulai dari istirahat yang cukup, maupun mengatur pola makan yang baik dan sehat.
"Ditambah dengan kondisi cuaca yang sudah musim hujan, kondisi sanitasi di kawasan kos-kosan yang kurang memenuhi standar kebersihan, dan tempat makan yang tidak higienis menjadi pemicu mereka terserang Hepatitis A," tuturnya, Selasa (15/12/2015).
Yonny mengatakan, upaya cepat tanggap mencegah penularan Hepatitis A di kalangan mahasiswa telah dilakukan di antaranya pengobatan massal kepada seluruh civitas IPB, sosialisasi dan penyuluhan tentang gizi seimbang, dan cara menyediakan makanan yang higienis yang ditujukan kepada pengelola kantin atau warung makan yang ada di dalam maupun luar kampus.
"Selain sosialisasi juga dilakukan upaya preventif supaya tidak ada lagi mahasiswa yang terjangkit hepatitis," tandasnya.
Guna menanganinya, IPB membentuk kelompok kerja (pokja) khusus yang terdiri dari berbagai unit terkait serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat.
Guna mencegah penularan penyakit hepatitis A, Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit & Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr Kusnadi mengimbau para mahasiswa untuk selalu mencuci tangan sebelum makan.
Selain itu, dia mengingatkan kepada mahasiswa untuk selalu mengonsumsi makanan dan minuman yang matang. Kendati demikian, terkadang makanan sudah bebas kuman, tetapi alat makan tidak bersih.
"Kalau makan bakso itu kan panas. Kuman sudah mati di suhu 85 derajat celcius. Tapi masalahnya mangkuknya suka tidak bersih. Dicucinya hanya dicelupkan dalam ember lalu dilap dengan kain yang sudah kotor," terangnya.
Untuk itulah, ucap Kusnadi, alat makan, seperti sendok, mangkuk, dan piring juga harus higienis karena penularan penyakit hepatitis A bisa melalui oral antarorang. Selain itu, dia juga punya trik tersendiri untuk mengidentifikasi rumah makan bersih atau tidak.

Sedangkan Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Didik mengimbuhkan, yang akan dilakukan untuk mengatasi penyebaran virus hepatitis A di IPB adalah mencanangkan pola hidup bersih dan sehat, kaporisasi pada air sumur, serta memakai disinfektan pada kantin dan asrama.

Para mahasiswa yang belum terjangkit langsung mengantisipasi penularan penyakit itu. Mereka kini lebih menjaga kebersihan dengan tidak makan sembarangan.

A.    Ruang Lingkup Menurut WHO
Menurut WHO, ruang lingkup Ilmu Kesehatan Lingkungan mencakup hal-hal sbb:
a)         Penyediaan air minum
b)        Pengolahan air buangan dan pengendalian pencemaran air
c)         Pengelolaan sampah padat
d)        Pengendalian vektor
e)         Pengendalian atau pencegahan pencemaran tanah
f)         Hygiene makanan
g)        Pengendalian pencemaran udara
h)        Pengendalian radiasi
i)          Kesehatan kerja
j)          Pengendalian kebisingan
k)        Perumahan dan pemukiman
l)          Perencanaan daerah perkotaan
m)      Aspek kesehatan lingkungan transportasi udara, laut dan darat
n)        Pencegahan kecelakaan
o)        Rekreasi umum dan pariwisata
p)        Keadaan darurat
q)        Pencegahan resiko lingkungan

Dalam kasus ini termasuk dalam Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan menurut WHO yang mencakup Hygiene Makanan hal ini dikarenakan penyebab Hepatitis A adalah berasal dari makanan yang dikonsumsi oleh penderita. Dan biasanya penyakit ini disebarkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh virus hepatitis.

B.     Ruang Lingkup Menurut Depkes
Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan  menurut Depkes :
a)    Kelompok upaya sanitasi dasar meliputi penyediaan kebutuhan sanitasi yang mendasar (mutlak) diperlukan manusia untuk kebutuhannya menjadi sehat!
b)   Kelompok upaya penanggulangan pencemaran dan kemerosotan lingkungan fisik dan biologis
c)    Kelompok upaya penanggulangan akibat tekanan pembangunan

Dalam kasus ini termasuk dalam Kelompok Upaya Sanitasi Dasar dikarenakan dalam kasus ini kondisi sanitasi di kawasan kos-kosan yang kurang memenuhi standar kebersihan, dan tempat makan yang tidak higienis menjadi pemicu mereka terserang Hepatitis A.

C.    Akar Masalah
 











D.    Emisi (Sumber Penyakit)
Sumber penyakit dalam kasus ini adalah murni karena masalah kebersihan makanan, minuman yang mengandung virus hepatitis A dan penularan dari sesseorang yang terkena Hepatistis A.
E.     Ambient (Kondisi Eksisting)
Kondisi sebelumnya mahasiswa kurang memperhatikan kesehatan mulai dari istirahat yang cukup, maupun mengatur pola makan yang baik dan sehat.
            Setelah terserang Hepatitis A, Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit & Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr Kusnadi mengimbau para mahasiswa untuk selalu mencuci tangan sebelum makan.
F.     Hubungan Manusia dan Lingkungan
Faktor cuaca yang lembab dan kondisi lingkungan yang padat ditambah dengan kondisi sanitasi di kawasan kos-kosan yang kurang memenuhi standar kebersihan, dan tempat makan yang tidak higienis menjadi pemicu mahaiswa terserang Hepatitis A.
G.    Jenis Traditional Hazard/Modern Hazard
Kasus Hepatitis A ini merupakan jenis Traditional Hazard karena berasal dari aktivitas traditional manusia yang mencakup sanitasi yang buruk, air minum berkualitas buruk, kondisi sanitasi di kawasan kos-kosan yang kurang memenuhi standar kebersihan, dan tempat makan yang tidak higienis.
H.    Pandangan Ekologi
“Tempat untuk mengolah makanan yang tidak sesuai dengan prinsip keamanan pangan seperti pengolahan makanan di tempat terbuka dapat menimbulkan pencemaran bakteri patogen(Indrati, 2015)
Perilaku hidup bersih seperti mencuci tangan pakai sabun sebelum makan dan sesudah dari toilet adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi diri terhadap virus Hepatitis A. Orang yang dekat dengan penderita mungkin memerlukan terapi imunoglobulin. Imunisasi Hepatitis A dianjurkan bagi orang yang potensial tersinfeksi seperti penghuni asrama dan mereka yang sering jajan di luar rumah. Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk Hepatitis A, sebab infeksinya sendiri biasanya akan sembuh dalam 1-2 bulan.
I.       Pandangan Epidemologi
Epidemiologi berarti  terkait dengan wabah penyakit yang bertujuan untuk mengendalikan kejadian penyakit yang menimpa atau timbul di lingkungan social/manusia dan kelompoknya/masyarakat.
Kondisi mahasiswa yang sangat sibuk untuk menghadapi ujian akhir semester (UAS). Sehingga tidak memerhatikan pola makan serta dalam keadaan kurang prima karena kurang istirahat. Sedangkan makanan yang tersedia belum tentu bersih. Ditambah memasuki musim hujan yang menyebabkan sanitasi terhambat menyebabkan mahasiswa mudah terserang penyakit.
J.      Ulasan Teori Holistik
Model Holistik dari HL. Blum menyatakan bahwa status kesehatan manusia (sehat atau sakit) dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor yang juga berinteraksi antara satu dengan yang lain. Faktor tersebut berdasarkan besar kecil perannya terhadap status kesehatan manusia terdiri dari :
1.      Lingkungan
2.      Perilaku
3.      Pelayanan Kesehatan
4.      Herediter (keturunan)
Catatan: gambar panah dengan ukuran berbeda menggambarkan urutan besarnya pengaruh ke empat faktortersebut.
Teori HL Blum menyimpulkan bahwa faktor lingkungan merupakan faktor yang terbesar yang mempengaruhi status kesehatan manusia. Selanjutnya diikuti faktor perilaku, pelayanan kesehatan dan herediter (keturunan).
Faktor utama yang berpengaruh dalam kasus ini adalah faktor lingkungan karena kasus ini diduga akibat kondisi lingkungan yang kurang higienis sehingga makanan yang dikonsumsi mahasiswa tidak sehat.
K.    Ulasan Teori Timbangan
Dalam masalah penyakit akan selalu ditemui triangle/ segitiga antara agent-host-environment yang selalu berubah secara dinamis yang mana hubungan antara agent/penyebab penyakit dengan  host/ pejamu dapat menyebabkan wabah bila kondisi yang ditopang lingkungan tidak seimbang tetapi tidak akan terjadi wabah apabila lingkungan yang mendukung kondisi  seimbang. Hubungan antara agent-host-environment dapat digambarkan dengan Neraca model John Gordon.
Timbangan yang sesuai dengan kasus ini adalah dimana host ada dalam jumlah yang besar, sehingga tidak seimbang dan mendukung menyebabkan wabah terjadi. Timbangan tersebut dapat digambarkan dengan :


 










         "Kalau makan bakso itu kan panas. Kuman sudah mati di suhu 85 derajat celcius. Tapi masalahnya mangkuknya suka tidak bersih. Dicucinya hanya dicelupkan dalam ember lalu dilap dengan kain yang sudah kotor," dr Kusnadi.
L.     Ulasan Teori Epidemiologi
            Penyebab penyakit adalah Virus Hepatitis A yang disebarkan oleh tinja/kotoran penderita. Biasanya melalui makanan atau minuman yang tidak matang.
            Gejalanya adalah mual (nausea), muntah-muntah, mencret, kulit kuning (terutama bagian putih dari mata), demam, dan nyeri.
M.   Prinsip Pengawasan/ Pengendalian/ Rekayasa Kesehatan Lingkungan
Pengawasan dalam kesehatan lingkungan dilakukan dengan beberapa upaya yang  dapat digolongkan dalam 5 kegiatan antara lain :
1.      ISOLASI
Adalah pengumpulan berbagai materi/bahan yang bersifat pencemar/pollutant dapat juga bersifat beracun dan berbahaya sehingga dapat dicegah adanya pencemaran, penyakit yang dapat menular dan kecelakaan. Sebagai contoh pembuatan septic tank kotoran manusia dikumpulkan dan diisolasi untuk tidak menimbulkan adanya pencemaran tanah dan air tanah.
2.      SUBSTITUSI
Penggantian bahan /materi yang biasanya  digunakan masyarakat oleh karena bahan yang dipakai mengandung bahan berbahaya dan beracun perlu diganti dengan bahan yang tidak menimbulkan efek berbahaya dan beracun seperti bensin dengan Pb/ timbal diganti molybdenum /bio premium.
3.      SHIELDING
Penggunaan alat pelindung /shield untuk tidak terkena atau terpapar media yang tercemar seperti udara, getaran ataupun sinar cahaya. Hal tersebut dijumpai pada saat orang bekerja sebagai contoh penggunaan alat pelindung diri/APD.
4.      TREATMENT
Penggunaan alat / instalasi untuk tujuan pemisahan , pembebasan dan pemusnahan bahan-bahan yang perlu dibuang dan dihancurkan oleh karena sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi seperti pengurangan BOD/ BOD removal
Yang dilakukan dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah/IPAL atau waste water treatment.
5.      PREVENTION
Pencegahan dengan cara memberikan kekebalan baru seperti immunisasi pada penyakit cacar , campak ,dan  vaksinasi tuberculosis dengan vaksin BCG. Pencegahan yang tersebut diatas berprinsip pada  PEMUTUSAN HUBUNGAN antara sumber penyebab penyakit dengan media lingkungan yang menjadi jalur penularan penyakit.
Upaya yang mencakup dalam kasus ini adalah Prevention. Dr Naufal mengatakan, virus hepatitis A mudah menyebar. Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) itu mengimbau, hal penting yang harus dilakukan adalah pencegahan dengan memerhatikan kebersihan diri dan makanan.
Sementara pihak pengelola asrama juga melakukan kegiatan bersih lorong, kamar, dan toilet guna mencegah bertambahnya mahasiswa yang terjangkit hepatitis.
N.    Intervensi Sesuai Akar Masalah
ü  Kerjasama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor. Untuk dilakukan sosialisasi kebersihan kepada pedagang, baik di dalam maupun di lingkungan lingkar kampus
ü  Pengobatan massal kepada seluruh civitas IPB
ü  Sosialisasi dan penyuluhan tentang gizi seimbang
ü  Mengimbau para mahasiswa untuk selalu mencuci tangan sebelum makan
ü  Rutin melakukan kegiatan pembersihan lingkungan




No comments:

Gulai Siput

Gulai Siput merupakan salah satu makanan khas yang ada di Kepulauan Riau. Sesuai dengan namanya, makanan ini menggunakan bahan utama siput a...