Saturday, 10 September 2016

Patah Hati Terhebat



2 September 2015
Ya, tepatnya setahun yang lalu aku berkenalan dengan seseorang secara terpaksa melalui chat Line. Hari itu adalah hari pertamaku melaksanakan PPSM Jurusan atau yang biasa disebut OSPEK di Universitas. Pada hari itu kami calon mahasiswa baru mendapatkan tugas untuk mencari nama kakak tingkat atau dosen beserta biodatanya dan maksimal 3 orang untuk nama yang sama. Seseorang yang akan ku ceritakan itu menjadi orang yang bertanggung jawab atas tugas kami.
Malam hari, Percakapan itu aku yang memulainya, aku harus memberanikan diri untuk bertanya apakah nama kakak tingkat yang kutulis sudah ada yang punya atau belum. Namun dia tak membalas pesanku pada malam itu juga. Aku sempat kesal karena sudah kesulitan mencari nama tapi tak ada balasan darinya. Untung saja saat pagi ia membalas tak ada yang sama denganku.

7 September 2015
            Hari pertamaku menjadi mahasiswa. Aku sekelompok berdiskusi tentang kasus lingkungan dengannya dan dia yang memulai berbicara diantara kami semua. Saat itu aku masih cuek dengan semua orang dan tidak terlalu memperdulikan.
            Aku tidak terlalu ingat jelas saat pertama aku kenal dengannya. Semenjak masuk kuliah, ia sering bahkan setiap hari ia mengirim chat kepadaku, awalnya hanya berbicara mengenai tugas-tugas kuliah yang kebetulan kami sekelompok. Disela-sela perbincangan sesekali kami juga suka bercanda dan sempat berdebat mengenai “Istri yang tidak bisa memasak”. Dari perdebatan itu secara perlahan bisa mengenal pribadi masing-masing.
 Entah sejak kapan perasaan itu muncul tapi rasanya sepi kalau ia tidak mengirim chat kepadaku. Jujur secara diam-diam aku suka memperhatikannya dan aku juga sadar ia  memperhatikanku secara diam-diam.
Awal-awal masuk kuliah ia duduk di depanku tapi sejak kami sering chat ia pindah disebelahku dan aku juga tidak tahu mengapa ia pindah. Sebelumnya kami tidak pernah mengobrol secara langsung walaupun banyak hal yang kami bicarakan melalui chat. Tapi karena duduk bersebelahan mau tidak mau kami harus berbicara karena tidak enak jika hanya diam-diam saja. Aku juga sering memukul pundaknya jika ia tertidur saat pelajaran sedang berlangsung.
Ada hal kecil, kenangan yang sangat sederhana yang masih aku ingat. Ia sering memainkan jariku  saat aku tertidur di kelas, sebenarnya aku menyadari tapi entah mengapa aku membiarkankannya.
Kami berdua sangat menyukai binatang terutama kucing dan anjing. Di sela-sela perkuliahan berlagsung kami sering melihat Instagram dari hpku atau miliknya. Kami juga menceritakan tentang peliharaan kami di rumah.
Pertengkaran pertama kami terjadi saat aku mengirimkan gambar cewek dan cowok berpelukan di dalam kereta. Namun tanggapannya membuatku kesal dan marah padanya, mungkin karena cemburu. Ia justru menceritakan, pada saat SMA ia hampir berpelukan dengan mantannya. Aku tidak membalas chatnya lagi dan dia juga tidak menanyakan apa yang terjadi denganku. Seminggu berlalu dan ia kembali mengirim chat kepadaku dan aku juga sudah melupakan hal itu dan aku sadar itu hanya masa lalunya yang tak perlu aku permasalahkan.

Desember 2015
            Liburan semester ganjil tiba. Dua minggu terasa begitu lama karena aku tidak bisa melihatnya. Aku masih ingat saat itu ia mulai menebak-nebak perasaanku padanya dan membicarakan tentang kita. Tapi aku tidak mengatakan kalau aku menyayanginya. Menurutku ia sosok yang berbeda, ia dapat memahami kode-kode perempuan walau hanya lewat tulisan. Jujur aku merasa nyaman saat ia ada didekatku, merasa gelisah jika tidak melihatnya dan ia sudah mengetahui itu. Saat itu juga pertama kalinya ia berjanji untuk menjagaku dan merahasiakan apa yang sedang kita rasakan. Kita masing-masing sudah malas sama yang namanya “Pacaran”.
            Liburan telah usai, jantungku berdegup kencang saat masuk kuliah kembali, ia datang dan duduk disebelahku lagi. Perasaan malu bercampur aduk dengan senang, karena ia sudah tahu kalau aku nyaman berada didekatnya.
            Semua berjalan begitu manis, diantara kami memang tidak ada status yang jelas tapi bisa selalu berada didekatnya saja aku sudah merasa senang.
            Ia suka bercerita, menceritakan keluarganya, hal-hal yang menyenangkan, bahkan juga menceritakan hal yang tidak menyenangkan. Ia pernah mengatakan, kalau aku harus tahu jika ia sedang gelisah dan kesal terhadap orang-orang disekitarnya. Aku senang, karena ia menjadikanku tempat untuk mencurahkan hatinya dan ia juga mengatakan kalau aku membuatnya tenang.
            Semakin lama perbincangan kami yang hanya lewat chat menjadi semakin serius, kami mengobrol hal masa depan yang begitu dewasa. Ia selalu berpesan untuk tidak menyesal karena telah mengenalnya dan pertanyaan yang sering ia lontarkan adalah “kalo gue jadi suami lu mau ga?”. Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun sifatnya dan aku juga biasa saja menanggapinya. 

Juli 2016
            Waktu obrolanku bersamanya semakin hari menjadi semakin malam, bisa sampai pagi. Ia selalu memintaku untuk menemaninya begadang dan satu kalimat yang aku ingat darinya adalah “berharap ditemenin sepanjang malam”. Begitu banyak kalimat-kalimat yang ia kirimkan lewat chat seolah-olah ia selalu ingin aku berada disampingnya bahkan sampai seterusnya.
            Suatu malam obrolan menjadi serius saat ia bertanya “Kalo udah berkomitmen boleh ngomong sayang ke orang lain gak?”. Aku ingat ia juga pernah bertanya itu sebelumnya sekitar 3  minggu yang lalu, yang aku jawab dengan kalimat candaan “Kalo belum punya suami mah gapapa hahahaha” dan ia balas dengan kalimat “jawaban yang bagus untuk anak polos seperti kau”. Tapi berbeda dengan malam itu, aku hanya mengiyakan dan berkata terserah. Pikiran negatifku berkata kalau ia sudah menyayangi orang lain dan itu bukan aku.
            Balasannya membuatku tercengang dan menangis “Gue sayang eluu”. Dan ia juga berjanji lagi untuk menjagaku dan menghormati perasaanku. Aku menangis karena ia sudah memiliki komitmen dengan orang lain, tapi ia sayang padaku dan aku seperti menjadi orang ketiga yang bisa merusak hubungan mereka. Entah berkomitmen seperti apa yang ia jalani, ia tak pernah menjelaskannya kepadaku dan aku juga tidak berhak untuk bertanya karena aku tahu aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang yang selalu dijanjikan untuk dijaga.
            Entah perasaanku ini salah atau tidak, aku bingung. Aku belum pernah merasakan seperti ini, aku jatuh cinta pada orang yang salah, tapi disisi lain aku yakin dengan perasaanku. 

Agustus 2016
            Baru sebentar saja aku merasa sangat disayangi olehnya, ia sudah membuatku sakit hati. Aku tahu sakit ini akan timbul kapan saja dan aku sadar kalau ia bukan seutuhnya untukku. Ia berjanji untuk selalu menjagaku dan menghormati perasaanku. Tapi apa yang ia lakukan sudah mengingkari janjinya. Bagaimana tidak, aku tidak sengaja melihat cover profile picturenya adalah seorang cewek dan status inisial nama cewek. Dan tanpa sengaja juga aku melihat ia meng-Upload foto cewek di Instagram dengan caption sebuah panggilan sayang dan ia juga memanggilku itu dari sebelum ia mengungkapkan perasaannya kepadaku.
            Jauh sebelum ia mengatakan sayang padaku, dan ia belum mengetahui perasaanku ia pernah meng-Upload foto cewek yang sama. Tak perlu menjelaskan siapa orang yang berkomitmen dengannya aku sudah tahu dengan sendirinya dan aku yakin cewek itu.
            Hari-hariku berubah menjadi isak tangis yang mendalam, aku juga tidak membalas chatnya lagi, aku capek untuk terus berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa denganku. Terkadang ia beri harapan, seakan aku miliknya tapi kadang terasa jauh dan ia juga sering mengatakan kalau aku lebih pantas untuk orang di masa depanku nanti. Padahal aku menginginkannya untuk terus bersamaku, entah mengapa aku begitu yakin. Aku sudah percaya dengannya tapi ia juga yang membuatku ragu. Aku tidak pernah menyesal dengan ini. Aku selalu ingat janji kita, harapan-harapan kita. Aku hanya tidak tahu harus menunggu atau meninggalkan. Ini patah hati terhebatku, lebih sakit dari yang pernah aku rasakan, ditinggal tanpa alasan dan diduakan. 

September 2016
            Tepatnya pada tanggal 6, malam hari ia kembali menyapaku. Aku balas keesokan harinya. Katanya sudah lama tidak mengobrol denganku. Aku merasakan sosoknya kembali yang selalu menghiburku walau ada sedikit canggung.
            Entah akan berakhir seperti apa, yang jelas aku tidak menginginkan hal ini terjadi padaku lagi. Aku berusaha untuk tidak berharap, karena percuma saja akan menjadi sia-sia. Terimakasih untuk selalu membuatku nyaman, untuk harapan-harapan yang begitu indah di masa depan. Kamu patah hati terhebatku.
            Satu pesanku, jangan pernah kamu sia-siakan orang yang selalu ada untukmu dan sudah memberikan segalanya untukmu.

Gulai Siput

Gulai Siput merupakan salah satu makanan khas yang ada di Kepulauan Riau. Sesuai dengan namanya, makanan ini menggunakan bahan utama siput a...