2 September 2015
Ya, tepatnya setahun yang lalu
aku berkenalan dengan seseorang secara terpaksa melalui chat Line.
Hari itu adalah hari pertamaku melaksanakan PPSM Jurusan atau yang biasa
disebut OSPEK di Universitas. Pada hari itu kami calon mahasiswa baru
mendapatkan tugas untuk mencari nama kakak tingkat atau dosen beserta
biodatanya dan maksimal 3 orang untuk nama yang sama. Seseorang yang akan ku
ceritakan itu menjadi orang yang bertanggung jawab atas tugas kami.
Malam hari, Percakapan itu aku
yang memulainya, aku harus memberanikan diri untuk bertanya apakah nama kakak
tingkat yang kutulis sudah ada yang punya atau belum. Namun dia tak membalas
pesanku pada malam itu juga. Aku sempat kesal karena sudah kesulitan mencari
nama tapi tak ada balasan darinya. Untung saja saat pagi ia membalas tak ada
yang sama denganku.
7 September 2015
Hari
pertamaku menjadi mahasiswa. Aku sekelompok berdiskusi tentang kasus lingkungan
dengannya dan dia yang memulai berbicara diantara kami semua. Saat itu aku
masih cuek dengan semua orang dan tidak terlalu memperdulikan.
Aku
tidak terlalu ingat jelas saat pertama aku kenal dengannya. Semenjak masuk
kuliah, ia sering bahkan setiap hari ia mengirim chat kepadaku, awalnya hanya
berbicara mengenai tugas-tugas kuliah yang kebetulan kami sekelompok.
Disela-sela perbincangan sesekali kami juga suka bercanda dan sempat berdebat
mengenai “Istri yang tidak bisa memasak”. Dari perdebatan itu secara perlahan
bisa mengenal pribadi masing-masing.
Entah sejak kapan perasaan itu muncul tapi
rasanya sepi kalau ia tidak mengirim chat kepadaku. Jujur secara
diam-diam aku suka memperhatikannya dan aku juga sadar ia memperhatikanku secara diam-diam.
Awal-awal masuk kuliah ia duduk
di depanku tapi sejak kami sering chat ia pindah disebelahku dan aku
juga tidak tahu mengapa ia pindah. Sebelumnya kami tidak pernah mengobrol
secara langsung walaupun banyak hal yang kami bicarakan melalui chat.
Tapi karena duduk bersebelahan mau tidak mau kami harus berbicara karena tidak
enak jika hanya diam-diam saja. Aku juga sering memukul pundaknya jika ia
tertidur saat pelajaran sedang berlangsung.
Ada hal kecil, kenangan yang
sangat sederhana yang masih aku ingat. Ia sering memainkan jariku saat aku tertidur di kelas, sebenarnya aku menyadari
tapi entah mengapa aku membiarkankannya.
Kami berdua sangat menyukai
binatang terutama kucing dan anjing. Di sela-sela perkuliahan berlagsung kami
sering melihat Instagram dari hpku atau miliknya. Kami juga menceritakan
tentang peliharaan kami di rumah.
Pertengkaran pertama kami terjadi
saat aku mengirimkan gambar cewek dan cowok berpelukan di dalam kereta. Namun
tanggapannya membuatku kesal dan marah padanya, mungkin karena cemburu. Ia
justru menceritakan, pada saat SMA ia hampir berpelukan dengan mantannya. Aku
tidak membalas chatnya lagi dan dia juga tidak menanyakan apa yang
terjadi denganku. Seminggu berlalu dan ia kembali mengirim chat kepadaku
dan aku juga sudah melupakan hal itu dan aku sadar itu hanya masa lalunya yang
tak perlu aku permasalahkan.
Desember 2015
Liburan
semester ganjil tiba. Dua minggu terasa begitu lama karena aku tidak bisa
melihatnya. Aku masih ingat saat itu ia mulai menebak-nebak perasaanku padanya
dan membicarakan tentang kita. Tapi aku tidak mengatakan kalau aku menyayanginya.
Menurutku ia sosok yang berbeda, ia dapat memahami kode-kode perempuan walau
hanya lewat tulisan. Jujur aku merasa nyaman saat ia ada didekatku, merasa
gelisah jika tidak melihatnya dan ia sudah mengetahui itu. Saat itu juga
pertama kalinya ia berjanji untuk menjagaku dan merahasiakan apa yang sedang
kita rasakan. Kita masing-masing sudah malas sama yang namanya “Pacaran”.
Liburan
telah usai, jantungku berdegup kencang saat masuk kuliah kembali, ia datang dan
duduk disebelahku lagi. Perasaan malu bercampur aduk dengan senang, karena ia
sudah tahu kalau aku nyaman berada didekatnya.
Semua
berjalan begitu manis, diantara kami memang tidak ada status yang jelas tapi
bisa selalu berada didekatnya saja aku sudah merasa senang.
Ia suka
bercerita, menceritakan keluarganya, hal-hal yang menyenangkan, bahkan juga
menceritakan hal yang tidak menyenangkan. Ia pernah mengatakan, kalau aku harus
tahu jika ia sedang gelisah dan kesal terhadap orang-orang disekitarnya. Aku
senang, karena ia menjadikanku tempat untuk mencurahkan hatinya dan ia juga
mengatakan kalau aku membuatnya tenang.
Semakin
lama perbincangan kami yang hanya lewat chat menjadi semakin serius,
kami mengobrol hal masa depan yang begitu dewasa. Ia selalu berpesan untuk
tidak menyesal karena telah mengenalnya dan pertanyaan yang sering ia lontarkan
adalah “kalo gue jadi suami lu mau ga?”. Aku tidak pernah
mempermasalahkan apapun sifatnya dan aku juga biasa saja menanggapinya.
Juli 2016
Waktu
obrolanku bersamanya semakin hari menjadi semakin malam, bisa sampai pagi. Ia
selalu memintaku untuk menemaninya begadang dan satu kalimat yang aku ingat
darinya adalah “berharap ditemenin sepanjang malam”. Begitu banyak
kalimat-kalimat yang ia kirimkan lewat chat seolah-olah ia selalu ingin
aku berada disampingnya bahkan sampai seterusnya.
Suatu
malam obrolan menjadi serius saat ia bertanya “Kalo udah berkomitmen
boleh ngomong sayang ke orang lain gak?”. Aku ingat ia juga
pernah bertanya itu sebelumnya sekitar 3
minggu yang lalu, yang aku jawab dengan kalimat candaan “Kalo
belum punya suami mah gapapa hahahaha” dan ia balas dengan
kalimat “jawaban yang bagus untuk anak polos seperti kau”. Tapi berbeda dengan
malam itu, aku hanya mengiyakan dan berkata terserah. Pikiran negatifku berkata
kalau ia sudah menyayangi orang lain dan itu bukan aku.
Balasannya
membuatku tercengang dan menangis “Gue sayang eluu”. Dan ia juga
berjanji lagi untuk menjagaku dan menghormati perasaanku. Aku menangis karena
ia sudah memiliki komitmen dengan orang lain, tapi ia sayang padaku dan aku
seperti menjadi orang ketiga yang bisa merusak hubungan mereka. Entah
berkomitmen seperti apa yang ia jalani, ia tak pernah menjelaskannya kepadaku
dan aku juga tidak berhak untuk bertanya karena aku tahu aku bukan siapa-siapa.
Aku hanya seorang yang selalu dijanjikan untuk dijaga.
Entah
perasaanku ini salah atau tidak, aku bingung. Aku belum pernah merasakan
seperti ini, aku jatuh cinta pada orang yang salah, tapi disisi lain aku yakin
dengan perasaanku.
Agustus 2016
Baru
sebentar saja aku merasa sangat disayangi olehnya, ia sudah membuatku sakit
hati. Aku tahu sakit ini akan timbul kapan saja dan aku sadar kalau ia bukan
seutuhnya untukku. Ia berjanji untuk selalu menjagaku dan menghormati
perasaanku. Tapi apa yang ia lakukan sudah mengingkari janjinya. Bagaimana
tidak, aku tidak sengaja melihat cover profile picturenya adalah seorang
cewek dan status inisial nama cewek. Dan tanpa sengaja juga aku melihat ia
meng-Upload foto cewek di Instagram dengan caption sebuah
panggilan sayang dan ia juga memanggilku itu dari sebelum ia mengungkapkan
perasaannya kepadaku.
Jauh
sebelum ia mengatakan sayang padaku, dan ia belum mengetahui perasaanku ia
pernah meng-Upload foto cewek yang sama. Tak perlu menjelaskan siapa
orang yang berkomitmen dengannya aku sudah tahu dengan sendirinya dan aku yakin
cewek itu.
Hari-hariku
berubah menjadi isak tangis yang mendalam, aku juga tidak membalas chatnya
lagi, aku capek untuk terus berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa denganku.
Terkadang ia beri harapan, seakan aku miliknya tapi kadang terasa jauh dan ia
juga sering mengatakan kalau aku lebih pantas untuk orang di masa depanku
nanti. Padahal aku menginginkannya untuk terus bersamaku, entah mengapa aku
begitu yakin. Aku sudah percaya dengannya tapi ia juga yang membuatku ragu. Aku
tidak pernah menyesal dengan ini. Aku selalu ingat janji kita, harapan-harapan
kita. Aku hanya tidak tahu harus menunggu atau meninggalkan. Ini patah hati
terhebatku, lebih sakit dari yang pernah aku rasakan, ditinggal tanpa alasan
dan diduakan.
September 2016
Tepatnya
pada tanggal 6, malam hari ia kembali menyapaku. Aku balas keesokan harinya.
Katanya sudah lama tidak mengobrol denganku. Aku merasakan sosoknya kembali
yang selalu menghiburku walau ada sedikit canggung.
Entah
akan berakhir seperti apa, yang jelas aku tidak menginginkan hal ini terjadi
padaku lagi. Aku berusaha untuk tidak berharap, karena percuma saja akan
menjadi sia-sia. Terimakasih untuk selalu membuatku nyaman, untuk harapan-harapan
yang begitu indah di masa depan. Kamu patah hati terhebatku.
Satu
pesanku, jangan pernah kamu sia-siakan orang yang selalu ada untukmu dan sudah
memberikan segalanya untukmu.


No comments:
Post a Comment