Wednesday, 17 August 2016

Analisis Otak Kita Sehat atau Sakit

Jadi Korban dari Mentalitas "Korban"

Donald Trump, kandidat presiden Amerika Serikat dari partai republik dalam beberapa kesempatan kampanyenya mengungkapkan rencananya untuk membangun tembok yg lebih kuat, tinggi dan solid di perbatasan AS dan Meksiko.

Ya.. "build the wall" merupakan salah satu ungkapan kampanyenya yg populer dan sering dikutip bahkan dibuat sebagai joke oleh berbagai media di AS.

"Build the wall" memang bisa saja sekedar merupakan ungkapan janji-janji kampanye populis yg disampaikan oleh salah satu calon presiden dalam hingar bingar perpolitikan di negeri tersebut.

Namun demikian, ia juga bisa menjadi cerminan peta mental yg hidup dan bertumbuh dalam benak seorang Trump.

Tembok atau wall merupakan representasi dari pola pikirnya yg beranggapan bahwa segala sesuatu yg menjadi sumber masalah ada di luar sana (the problem is out there).

Tembok yg besar dan kuat menurutnya adalah jawaban atas masuknya orang-orang meksiko yang menjadi sumber problematika narkoba, penyelundupan (manusia dan kokain) dan pertikaian antar geng di jalan-jalan di AS.

Ia beranggapan bahwa sumber-sumber masalah utama dr kemerosotan dan masalah di negerinya ada di tangan orang-orang dan pihak-pihak di luar sana.

Maka "making America great again" dengan membangun "tembok2 tinggi" dan menunjuk2 jari pada "apa pun di luar sana" yg bisa dituding sebagai "kambing hitam" atau biang keladi kesalahan jadi pilihan yg relatif "mudah" dan "efisien" untuk dilakukan.

Uniknya lagi pola pikir seperti ini mendapat sambutan hangat dan jadi euphoria baru dr sebagian masyarakat di sana.

Kondisi seperti ini menjadi fenomena dan histeria "mentalitas korban" dengan pola pikir "tembok penutup" yg tumbuh subur dan marak di banyak negara.

Loh kok bisa?

Karena berpikir bahwa kita adalah korban dr segala sesuatu yg ada di luar bisa jd "red rose glasses" yg berfungsi sbg "psychological immune system" bagi diri sendiri.  

Dengan menyalahkan orang lain dan menutup diri, kita bisa seolah terbebas dr beban dan tekanan kesalahan dan tanggungjawab pribadi.

Mentalitas korban dan menyalah2kan sesama oleh karenanya tak hanya bisa terjadi di "luar sana" namun juga bisa bersumber dari dalam pikiran kita sendiri.

Sebagaimana ketika sebagian dari kita yg memberi tempat bagi tumbuh suburnya benih-benih pola pikir "buruk muka cermin dibelah".

Pola pikir seperti inilah yg membuat kita berpikir dan oleh karenanya percaya bahwa: kita terjatuh karena lantai yg licin, gagal karena pihak lain yg bersikap licik, bertumbuh lambat karena skenario tak tulus orang lain dsbnya.

Konon segala hal buruk yg terjadi pada saya ya karena orang lain.

Kita mungkin tak sadar bahwa neuron dalam otak kita bekerja dengan pola "fire together wire together" atau sebaliknya "fire apart wire apart".

Kita pun kerap membangun "tembok-tembok tinggi" virtual dan fisik dalam otak yg justru bs jadi membatasi kemampuan kita utk bercermin dan bertanggungjawab secara pribadi.

Seperti kata Dalai Lama:

"When you think that everything is some one elses faults. You will suffer a lot. When you think that everything springs from within you, will learn with peace and joy".

Happy Wednesday. (Novianta hutagalung)

No comments:

Gulai Siput

Gulai Siput merupakan salah satu makanan khas yang ada di Kepulauan Riau. Sesuai dengan namanya, makanan ini menggunakan bahan utama siput a...