BOGOR - Puluhan mahasiswa Institut Pertanian Bogor
(IPB) terserang penyakit Hepatitis A dalam dua bulan terakhir. Kasus ini
membuat IPB menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Wakil Rektor Bidang
Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof Yonny Koesmaryono, menjelaskan, beberapa
bulan ini merupakan masa tersibuk bagi mahasiswanya. Sebagian
dari mereka ada yang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir semester
(UAS) dan mempersiapkan kelulusan. Kesibukan menyelesaikan tugas kampus, kata
Yonny, membuat mahasiswa kurang memperhatikan kesehatan mulai dari istirahat
yang cukup, maupun mengatur pola makan yang baik dan sehat.
"Ditambah
dengan kondisi cuaca yang sudah musim hujan, kondisi sanitasi di kawasan kos-kosan
yang kurang memenuhi standar kebersihan, dan tempat makan yang tidak higienis
menjadi pemicu mereka terserang Hepatitis A," tuturnya, Selasa
(15/12/2015).
Yonny mengatakan,
upaya cepat tanggap mencegah penularan Hepatitis A di kalangan mahasiswa telah
dilakukan di antaranya pengobatan massal kepada seluruh civitas IPB,
sosialisasi dan penyuluhan tentang gizi seimbang, dan cara menyediakan makanan
yang higienis yang ditujukan kepada pengelola kantin atau warung makan yang ada
di dalam maupun luar kampus.
"Selain sosialisasi juga dilakukan upaya
preventif supaya tidak ada lagi mahasiswa yang terjangkit hepatitis,"
tandasnya.
Guna menanganinya, IPB membentuk kelompok kerja
(pokja) khusus yang terdiri dari berbagai unit terkait serta berkoordinasi
dengan Dinas Kesehatan setempat.
Guna mencegah
penularan penyakit hepatitis A, Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
& Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr Kusnadi
mengimbau para mahasiswa untuk selalu mencuci tangan sebelum makan.
Selain itu, dia mengingatkan kepada mahasiswa untuk
selalu mengonsumsi makanan dan minuman yang matang. Kendati demikian, terkadang
makanan sudah bebas kuman, tetapi alat makan tidak bersih.
"Kalau makan bakso itu kan panas. Kuman sudah
mati di suhu 85 derajat celcius. Tapi masalahnya mangkuknya suka tidak bersih.
Dicucinya hanya dicelupkan dalam ember lalu dilap dengan kain yang sudah
kotor," terangnya.
Untuk itulah, ucap Kusnadi, alat makan, seperti
sendok, mangkuk, dan piring juga harus higienis karena penularan penyakit
hepatitis A bisa melalui oral antarorang. Selain itu, dia juga punya trik
tersendiri untuk mengidentifikasi rumah makan bersih atau tidak.
Sedangkan Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan
Kabupaten Bogor, Didik mengimbuhkan, yang akan dilakukan untuk mengatasi
penyebaran virus hepatitis A di IPB adalah mencanangkan pola hidup bersih dan
sehat, kaporisasi pada air sumur, serta memakai disinfektan pada kantin dan
asrama.
Para mahasiswa yang belum terjangkit langsung
mengantisipasi penularan penyakit itu. Mereka kini lebih menjaga kebersihan
dengan tidak makan sembarangan.
A.
Ruang Lingkup Menurut WHO
Menurut
WHO, ruang lingkup Ilmu Kesehatan Lingkungan mencakup hal-hal sbb:
a)
Penyediaan air
minum
b)
Pengolahan air
buangan dan pengendalian pencemaran air
c)
Pengelolaan
sampah padat
d)
Pengendalian
vektor
e)
Pengendalian
atau pencegahan pencemaran tanah
f)
Hygiene makanan
g)
Pengendalian
pencemaran udara
h)
Pengendalian
radiasi
i)
Kesehatan kerja
j)
Pengendalian
kebisingan
k)
Perumahan dan
pemukiman
l)
Perencanaan
daerah perkotaan
m) Aspek
kesehatan lingkungan transportasi udara, laut dan darat
n)
Pencegahan
kecelakaan
o)
Rekreasi umum
dan pariwisata
p)
Keadaan darurat
q)
Pencegahan
resiko lingkungan
Dalam kasus ini termasuk dalam Ruang Lingkup Kesehatan
Lingkungan menurut WHO yang mencakup “Hygiene Makanan” hal ini dikarenakan penyebab Hepatitis A adalah berasal dari makanan yang
dikonsumsi oleh penderita. Dan biasanya penyakit ini disebarkan melalui makanan
dan minuman yang terkontaminasi oleh virus hepatitis.
B.
Ruang Lingkup Menurut Depkes
Ruang
Lingkup Kesehatan Lingkungan menurut
Depkes :
a)
Kelompok upaya
sanitasi dasar meliputi penyediaan kebutuhan sanitasi yang mendasar (mutlak)
diperlukan manusia untuk kebutuhannya menjadi sehat!
b)
Kelompok upaya
penanggulangan pencemaran dan kemerosotan lingkungan fisik dan biologis
c)
Kelompok upaya
penanggulangan akibat tekanan pembangunan
Dalam kasus ini termasuk dalam Kelompok Upaya Sanitasi
Dasar dikarenakan dalam kasus ini kondisi sanitasi di kawasan kos-kosan yang
kurang memenuhi standar kebersihan, dan tempat makan yang tidak higienis
menjadi pemicu mereka terserang Hepatitis A.
C.
Akar
Masalah
D.
Emisi (Sumber Penyakit)
Sumber penyakit dalam kasus ini adalah murni karena masalah kebersihan makanan, minuman yang
mengandung virus hepatitis A dan penularan dari sesseorang yang terkena
Hepatistis A.
E.
Ambient (Kondisi Eksisting)
Kondisi sebelumnya mahasiswa kurang
memperhatikan kesehatan mulai dari istirahat yang cukup, maupun mengatur pola
makan yang baik dan sehat.
Setelah terserang Hepatitis A, Kabid
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit & Kesehatan Lingkungan Dinas
Kesehatan Kabupaten Bogor, dr Kusnadi mengimbau para mahasiswa untuk selalu
mencuci tangan sebelum makan.
F.
Hubungan Manusia dan Lingkungan
Faktor cuaca yang lembab dan kondisi lingkungan yang
padat ditambah dengan kondisi sanitasi di kawasan kos-kosan yang kurang
memenuhi standar kebersihan, dan tempat makan yang tidak higienis menjadi
pemicu mahaiswa terserang Hepatitis A.
G.
Jenis Traditional Hazard/Modern Hazard
Kasus Hepatitis A ini merupakan jenis Traditional Hazard
karena berasal dari aktivitas traditional manusia yang mencakup sanitasi yang
buruk, air minum berkualitas buruk, kondisi sanitasi di kawasan kos-kosan yang
kurang memenuhi standar kebersihan, dan tempat makan yang tidak higienis.
H.
Pandangan Ekologi
“Tempat untuk mengolah makanan yang tidak sesuai
dengan prinsip keamanan pangan seperti pengolahan makanan di tempat terbuka
dapat menimbulkan pencemaran bakteri patogen” (Indrati,
2015)
Perilaku hidup bersih seperti mencuci tangan pakai sabun
sebelum makan dan sesudah dari toilet adalah salah satu cara terbaik untuk
melindungi diri terhadap virus Hepatitis A. Orang yang dekat dengan penderita
mungkin memerlukan terapi imunoglobulin. Imunisasi Hepatitis A dianjurkan bagi
orang yang potensial tersinfeksi seperti penghuni asrama dan mereka yang sering
jajan di luar rumah. Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk Hepatitis A,
sebab infeksinya sendiri biasanya akan sembuh dalam 1-2 bulan.
I.
Pandangan Epidemologi
Epidemiologi berarti
terkait dengan wabah penyakit yang bertujuan untuk mengendalikan
kejadian penyakit yang menimpa atau timbul di lingkungan social/manusia dan
kelompoknya/masyarakat.
Kondisi
mahasiswa yang sangat sibuk untuk menghadapi ujian akhir semester (UAS). Sehingga
tidak memerhatikan pola makan serta dalam keadaan kurang prima karena kurang
istirahat. Sedangkan makanan yang tersedia belum tentu bersih. Ditambah
memasuki musim hujan yang menyebabkan sanitasi terhambat menyebabkan mahasiswa
mudah terserang penyakit.
J.
Ulasan Teori Holistik
Model Holistik dari HL. Blum menyatakan bahwa status
kesehatan manusia (sehat atau sakit) dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor yang
juga berinteraksi antara satu dengan yang lain. Faktor tersebut berdasarkan
besar kecil perannya terhadap status kesehatan manusia terdiri dari :
1. Lingkungan
2. Perilaku
3. Pelayanan
Kesehatan
4. Herediter
(keturunan)
Catatan: gambar panah dengan ukuran berbeda
menggambarkan urutan besarnya pengaruh ke empat faktortersebut.
Teori
HL Blum menyimpulkan bahwa faktor lingkungan merupakan faktor yang terbesar
yang mempengaruhi status kesehatan manusia. Selanjutnya diikuti faktor
perilaku, pelayanan kesehatan dan herediter (keturunan).
Faktor utama yang berpengaruh dalam kasus ini adalah
faktor lingkungan karena kasus ini diduga akibat kondisi lingkungan yang kurang
higienis sehingga makanan yang dikonsumsi mahasiswa tidak sehat.
K.
Ulasan Teori Timbangan
Dalam masalah penyakit
akan selalu ditemui triangle/
segitiga antara agent-host-environment yang selalu berubah secara dinamis
yang mana hubungan antara agent/penyebab
penyakit dengan host/ pejamu dapat menyebabkan wabah bila
kondisi yang ditopang lingkungan tidak
seimbang tetapi tidak akan terjadi wabah apabila lingkungan yang mendukung
kondisi seimbang. Hubungan antara agent-host-environment
dapat digambarkan dengan
Neraca model John Gordon.
Timbangan yang sesuai dengan kasus ini adalah dimana host
ada dalam jumlah yang besar, sehingga tidak seimbang dan mendukung menyebabkan
wabah terjadi. Timbangan tersebut dapat digambarkan dengan :
"Kalau
makan bakso itu kan panas. Kuman sudah mati di suhu 85 derajat celcius. Tapi
masalahnya mangkuknya suka tidak bersih. Dicucinya hanya dicelupkan dalam ember
lalu dilap dengan kain yang sudah kotor," dr Kusnadi.
L. Ulasan Teori
Epidemiologi
Penyebab
penyakit adalah Virus Hepatitis A yang disebarkan oleh tinja/kotoran penderita.
Biasanya melalui makanan atau minuman yang tidak matang.
Gejalanya
adalah mual
(nausea), muntah-muntah, mencret, kulit kuning (terutama bagian putih dari
mata), demam, dan nyeri.
M. Prinsip Pengawasan/
Pengendalian/ Rekayasa Kesehatan Lingkungan
Pengawasan dalam
kesehatan lingkungan dilakukan dengan beberapa upaya yang dapat digolongkan dalam 5 kegiatan antara
lain :
1.
ISOLASI
Adalah pengumpulan berbagai
materi/bahan yang bersifat pencemar/pollutant dapat juga bersifat beracun dan
berbahaya sehingga dapat dicegah adanya pencemaran, penyakit yang dapat menular
dan kecelakaan. Sebagai contoh pembuatan septic tank kotoran manusia
dikumpulkan dan diisolasi untuk tidak menimbulkan adanya pencemaran tanah dan
air tanah.
2.
SUBSTITUSI
Penggantian
bahan /materi yang biasanya digunakan
masyarakat oleh karena bahan yang dipakai mengandung bahan berbahaya dan
beracun perlu diganti dengan bahan yang tidak menimbulkan efek berbahaya dan
beracun seperti bensin dengan Pb/ timbal diganti molybdenum /bio premium.
3.
SHIELDING
Penggunaan alat
pelindung /shield untuk tidak terkena atau terpapar media yang tercemar seperti
udara, getaran ataupun sinar cahaya. Hal tersebut dijumpai pada saat orang
bekerja sebagai contoh penggunaan alat pelindung diri/APD.
4.
TREATMENT
Penggunaan
alat / instalasi untuk tujuan pemisahan , pembebasan dan pemusnahan bahan-bahan
yang perlu dibuang dan dihancurkan oleh karena sudah tidak dapat dimanfaatkan
lagi seperti pengurangan BOD/ BOD removal
Yang dilakukan dengan Instalasi
Pengolahan Air Limbah/IPAL atau waste water treatment.
5.
PREVENTION
Pencegahan dengan cara
memberikan kekebalan baru seperti immunisasi pada penyakit cacar , campak
,dan vaksinasi tuberculosis dengan
vaksin BCG. Pencegahan yang tersebut diatas berprinsip pada PEMUTUSAN HUBUNGAN antara sumber
penyebab penyakit dengan media lingkungan yang menjadi jalur penularan
penyakit.
Upaya yang mencakup dalam kasus ini adalah Prevention. Dr
Naufal mengatakan, virus hepatitis A mudah menyebar. Dosen Departemen Gizi
Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) itu mengimbau, hal penting yang
harus dilakukan adalah pencegahan dengan memerhatikan kebersihan diri dan
makanan.
Sementara
pihak pengelola asrama juga melakukan kegiatan bersih lorong, kamar, dan toilet
guna mencegah bertambahnya mahasiswa yang terjangkit hepatitis.
N.
Intervensi Sesuai Akar Masalah
ü Kerjasama
dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor. Untuk dilakukan sosialisasi
kebersihan kepada pedagang, baik di dalam maupun di lingkungan lingkar kampus
ü Pengobatan
massal kepada seluruh civitas
IPB
ü Sosialisasi
dan penyuluhan tentang gizi seimbang
ü Mengimbau
para mahasiswa untuk selalu mencuci tangan sebelum makan
ü Rutin
melakukan kegiatan pembersihan lingkungan